Pages

SYAHADAT

TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN NABI MUHAMMAD ADALAH HAMBA DAN UTUSAN ALLAH
Say
Bismillahirrahmannirrahim........

Jumat, 10 Februari 2012

Iskandar Dzulkarnain

Iskandar Zulkarnain, Dialah Raja Muslim yang sangat berkuasa namun saleh. Daerah taklukannya membentang dari bumi bagian barat sampai timur. Ia mendapat julukan Iskandar “Zulkarnain”. “Zul”, artinya “memiliki”, Qarnain, artinya “Dua Tanduk”. Maksudnya, Iskandar yang memiliki kekuasaan antara timur dan barat.
Dia juga telah membangun dinding besar berteknologi tinggi untuk ukuran saat itu, diantara dua Gunung. Para ahli sejarah meyakini, dinding tersebut terbuat dari besi yang dicampur dengan tembaga itu terletak tepat di pengunungan Kaukasus. Daerah itu kini disebut Georgia, negara pecahan Uni Soviet.
Secara topografis, deretan pegunungan Kaukasus itu memang terlihat memanjang dari laut Hitam sampai ke laut Kaspia sepanjang 1.200 kilometer tanpa celah. Kecuali pada bagian kecil sempit yang disebut celah Darial sepanjang 100 Meter kurang lebih. Pada bagian celah itulah Zulkarnain membangun tembok penghalang dari Ya’juj dan Ma’juj. Kisah ketokohan Iskandar Zulkarnain ini juga tertulis dalam catatan sejarah orang-orang barat. Dalam catatan tersebut diceritakan bagaimana ia berjaya meluaskan daerah taklukannya dalam masa yang sangat singkat. Oleh karena kejayaannya ini, ia diberi gelar “Alexander The Great”, Alexander Yang Agung”. Belakangan cerita ini diadaptasi ke film layar lebar oleh Sutradara Amerika Serikat, Oliver Stone, dengan judul Alexander The Great. Namun cerita dari orang-orang barat tersebut sangat bertentangan dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Para Mufasir menyatakan, “Alexander The Great” adalah orang yang berbeda dengan tokoh yang di tulis dalam Al-Qur’an, Yakni, Iskandar Zulkarnain. Alexander Thr Great itu dalam sejarahnya tidak diberitakan pernah membangun sebuah dinding besar berteknologi tinggi untuk ukuran saat itu, yang terbuat dari besi dicampur tembaga. Bahkan, ia adalah seorang musyrik. Sejarah tidak mencatatnya sebagai seorang Raja Muslim yang taat kepada agama Tauhid.
Sejarawan Muslim yang juga ahli tafsir, Ibnu Katsir, dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah menjelaskan, meski punya nama yang sama dan plot cerita yang sama, yaitu kekuasaannya membentang dari Barat sampai ke Timur, keduanya adalah sosok yang berbeda. Antara mereka terbentang jarak dan waktu sampai 2000 tahun. “Hanya mereka yang tidak mengerti sejarah yang bisa terkecoh oleh identitas kedua orang itu,” katanya.
Ibnu Katsir lebih jauh menjelaskan, Zulkarnain adalah nama gelar atau julukan seorang penglima penakluk sekaligus Raja saleh. Karena kesalehannya ia selalu mengajak manusia untuk menyembah Allah. Namun mereka ingkar, malah memukul tanduknya – Qarnun, yaitu rambut kepala yang di ikat – sebelah kanan, hingga ia mati. Lalu Allah menghidupkannya kembali, dan ia pun kembali berdakwah. Tetapi sekali lagi tanduknya yang kiri dipukul, sehingga ia mati lagi. Allah SWT menghidupkannya kembali dan menjulukinya Zulkarnain, pemilik duaTanduk, serta memberinya kekuasaan. Cerita yang sama juga di jumpai dalam kitab Jami Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, karangan Syekh Al-Aiji Asy-Syafi’i. Dalam kitab tersebut disebutkan, Zulkarnain adalah seorang hamba yang taat kepada Allah dan mengajak kaumnya menyembah Allah. Lalu mereka memukul tanduknya yang kanan hingga mati. Kemudian Allah menghidupkannya lagi, dan dia kembali mengajak kaumnya mengesakan Allah. Tetapi mereka malah memukul tanduknya yang kiri hingga mati lagi. Lalu Allah menghidupkannya lagi dan menganugrahinya kekuasaan yang tak tertandingi. Oleh karena itu ia dijuluki Zulkarnain.
Di samping kedua kitab tersebut, Mufassir Muslim Ibnu Jarir Ath-Thabari juga mengisahkannya dalam kitab tafsir Ath-Thabari. Dikatakan, Iskandar Zulkarnain adalah seorang laki-laki yang berasal dari Romawi, ia anak tunggal seorang yang paling miskin diantara penduduk kota. Namun dalam pergaulan sehari-hari, ia hidup dalam lingkungan kerajaan, bergaul dengan para perwira dan berkawan dengan wanita-wanita yang baik dan berbudi serta berakhlak mulia.
Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsir Al-Qur’annya yang populer, Tafsir Al-Qurtubi, menceritakan, sejak masih kecil dan masa pertumbuhannya Iskandar berakhlak mulia. Melakukan hal-hal yang baik sehingga terangkat nama baiknya. Ia juga menjadi mulia di kalangan kaumnya, sehingga Allah berkenan memberinya kewibawaan. Setelah mencapai usia akil balig, Iskandar menjadi seorang hamba yang saleh, sehingga Allah Berfirman, “Wahai Zulkarnain, Sesungguhnya aku mengutusmu kepada umat-umat di bumi. Mereka adalah umat yang berbeda-beda bahasanya dan mereka adalah umat yang berada di segala penjuru bumi. Mereka terbagi dalam beberapa golongan.”
Mendapat amanat tersebut, Zulkarnain lalu berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menugasiku melakukan seuatu hal yang aku tidak kuasa melakukannya kecuali engkau sendiri, maka beritahukan kepadaku tentang umat-umat itu, dengan kekuatan apa aku bisa melawan mereka? Dengan kesabaran apa aku bisa menahan mereka? Dan dengan bahasa apa aku harus bicara dengan mereka? Bagaimana pula aku bisa memahami bahasa mereka sedangkan aku tidak mempunyai kemampuan.”
Kemudian Allah SWT berfirman”Aku membebanimu sesuatu yang kamu mampu melakukannya, aku akan melapangkan pendengaran dan dadamu hingga kamu bisa mendengar dan memperhatikan segala sesuatu. Memudahkan pemahamanmu sehingga kamu bisa memahami segala sesuatu, memudahkan lidahmu, hingga kamu bisa berbicara tentang sesuatu, membukakan penglihatanmu, sehingga kamu bisa melihat segala sesuatu, melipatgandakan kekuatanmu hingga tak terkalahkan oleh sesuatu apapun, menyingsingkan lenganmu, hingga tidak ada sesuatupun yang berani meyerangmu, menguatkan hatimu, hingga kamu tidak takut pada apapun, menguatkan kedua tanganmu hingga kamu bisa menguasai segala sesuatu, menguatkan pijakanmu hingga kamu bisa mengatasi segala sesuatu, memberimu kemuliaan hingga tidak ada apapun yang menakutimu, menundukkan untukmu cahaya dan kegelapan dan menjadikan salah satu tentaramu. Cahaya itu akan menjadi petunjuk di depanmu, dan kegelapan itu akan berkeliling di belakangmu”.

Kisah Nabi Sam'un Ghozi AS (Samson)

Kisah Nabi Sam'un Ghozi AS (Samson)
http://berbagirhema.files.wordpress.com/2011/01/samson-cd2.gif

Seperti yang diketahui di dalam ajaran Islam, bahwa jumlah nabi menurut hadits yaitu 124 ribu orang, dan rasul berjumlah 312 orang, sesuai rukun iman ke-4 di dalam rukun iman diwajibkan untuk mengetahui 25 orang nabi dan rasul.


Dari Abi Zar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, "Jumlah para nabi itu adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi." "Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?" Beliau menjawab, "Tiga ratus dua belas (312)."
(Hadits riwayat At-Turmuzy)


Samson atau Simson, merupakan seorang nabi di dalam ajaran islam yang dikenal dengan nama Nabi Sam'un Ghozi AS. Kisah nabi ini, terdapat di dalam kitab-kitab, seperti kitab Muqasyafatul Qulub dan kitab Qishashul Anbiyaa.

Nabi Sam'un Ghozi AS memiliki kemukjizatan, yaitu dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana. Cerita Nabi Sam'un Ghozi AS adalah kisah Israiliyat yang diceritakan turun-temurun di jazirah Arab. Cerita ini melegenda jauh sebelum Rasulullah lahir.

Dari kitab Muqasyafatul Qulub karangan al Ghazali, diceritakan bahwa Rasulullah berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan. Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam'un Ghozi AS, beliau adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi.

Dikisahkan Nabi Sam'un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam'un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil.

Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam'un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam'un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah.

Singkat cerita Nabi Sam'un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya dan cintanya kepada isterinya, nabi Sam'un berkata kepada isterinya, "Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku."

Akhirnya Nabi Sam'um Ghozi AS diikat oleh istrinya saat ia tertidur, lalu dia dibawa ke hadapan sang raja. Beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja.

Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Sam'un Ghozi AS berdoa kepada Allah SWT. Beliau berdoa dengan dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah.

Do'a Nabi Sam'un dikabulkan, dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya. Kemudian nabi bersumpah kepada Allah SWT, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Semua itu atas Hidayah dari Allah SWT.

Ketika Rasulullah selesai menceritakan cerita Nabi Sam'un Ghozi AS yang berjuang fisabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata : "Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiyullah Sam'un Ghozi AS. Kemudian Rasulullah SAW, diam sejenak.

Kemudian Malaikat Jibril AS datang dan mewahyukan kepada beliau, bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam, yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.


Pada kitab Qishashul Anbiyaa, dikisahkan, bahwa Rasullah Muhammad SAW tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya, "Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?"

Rasullah menjawab, "Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing, masuk ke dalam surga. Ada salah seorang nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Sam'un."


Demikian kisah Nabi Sam'un Ghozi AS atau yang lebih dikenal dengan Samson atau Simson. Semoga dari kisah ini, dapat kita petik sebuah pelajaran di dalamnya.

wasalam........

Kamis, 09 Februari 2012

INILAH Presiden Teladan Sekaligus Presiden Termiskin di dunia !!!!

Kalo membaca Artikel Ini Sangat Bertolak Belakang Dengan Pejabat di Indonesia yg 99% BEJAT ....!!!!

Mudah-mudahan di pemilu yang akan datang kita akan memiliki Presiden seperti ini





Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya:

"Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"
Jawabnya: "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:
"Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran ."

Berikut adalah gambaran Ahmadinejad, yang membuat orang ternganga dan terheran-heran :



1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan
Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu
kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP,
lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler
untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.

3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya
dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya,
arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana
dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi,
sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.

5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977,
sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran.
Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.

6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.

7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya.
Hanya itulah yang dimilikinyaseorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis,
belum lagi secara minyak dan pertahanan.
Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan;
roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira,
ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.



9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan,
ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya,
ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.

10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan,
dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri2 nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan.
Ia juga menghentikan kebiasaan upacara2 seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi,
atau hal2 spt itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.



ahmadinejad di depan rumah nya ...

11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar
karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut.
Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?
Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi.
Menurut koran Wifaq, foto2 yg diambil oleh adiknya tersebut,
kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika.




12. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka


13. Bahkan ketika suara azan berkumandang,
ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa


14. baru-baru ini dia baru saja mempunyai Hajatan Besar Yaitu Menikahkan Puteranya. Tapi pernikahan putra Presiden ini hanya layaknya pernikahan kaum Buruh. Berikut dokumentasi pernikahan Putra Seorang Presiden




Lihat aja makanannya cuman ada Pisang,Jeruk,Apel












Mudah-mudahan di pemilu yang akan datang kita akan memiliki Presiden seperti itu

Rabu, 08 Februari 2012

Istidraj

2642616014_53cfff0b0a1

Istidraj didefinisikan sebagai anugrah atau rizki yang dilimpahkan Allah kepada mereka yang berbuat maksiat.  Pemberian seperti itu akan berakhir dengan penderitaan. Kalaupun penderitaan itu tidak dirasakan di dunia, pasti di dapatkan di akhirat.  Karena setiap kemaksiatan pasti di balas, jika tidak bertaubat.
Rasulullah bersabda, “Apabila kamu melihat Allah memberi seorang hamba apa yang diinginkannya, padahal hamba itu selalu berbuat maksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj dari Allah untuknya”. (HR. Ahmad dan Thabrani, dalam kitab as-Syu’ab).
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka.  Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa dengan sekonyong-konyong, maka seketika itu mareka terdiam berputus asa. Maka orang-orang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. al-An’am:  44-45).
Mari bersama-sama kita menjauhkan diri dari maksiat, sehingga rizki yang kita terima tidak termasuk dalam istidraj.

Sejarah Pemindahan Kiblat Ke Ka'Bah

Dahulu kiblat kaum muslimin adalah Baitul Maqdis di Palestina. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri sholat menghadap Baitul Maqdis selama 16 sampai 17 bulan.

Di dalam hatinya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menginginkan agar kiblat dipindahkan ke Ka'bah sehingga kaum
muslimin pun sholat menghadapnya. Beliau seringkali memandang ke langit, menantikan
wahyu dari Allah tentang masalah ini.
Allah subhanahu wa ta'ala kemudian menurunkan ayat:
 “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah:144)

Sebagian kaum muslimin pada waktu itu bertanya-tanya perihal pemindahan kiblat ini. Yaitu dari Baitul Maqdis menjadi menghadap ke Ka'bah atau masjidil haram di Makkah. Bagaimanakah dengan orang yang dulunya shalat menghadap ke Baitul Maqdis, namun dia telah meninggal sebelum dia sempat shalat menghadap ke kiblat yang baru ?Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firmannya:
Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.
Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia

Setelah pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke masjidil haram ini, orang-orang Yahudi yang benci dan hasad kepada kaum muslimin mengatakan, "Apa yang menyebabkan mereka berpaling dari kiblat yang dahulu mereka menghadap kepadanya?" Maka Allah berfirman:
Orang-orang sufaha diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus".

Pada saat itu pula ada seseorang yang sudah shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan menghadap ke arah Ka'bah.Orang ini kemudian mendatangi sekelompok orang yang sedang shalat di masjid yang lain. Dia kemudian memberi tahu jama'ah tersebut tentang perpindahan kiblat.Dia berkata, "Aku bersaksi demi Allah! Aku telah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan menghadap kota Makkah". Maka jama'ah tersebut merubah arah kiblatnya ke arah Ka'bah.(*

Selasa, 07 Februari 2012

Surah Al-Fatihah dan Surah Al Baqarah

Surah Al-Fatihah dan Surah Al Baqarah
Hubungan Surah-surah Al-Qur’an dan Karakter manusia.

Surah ini adalah surah pertama dalam tertib urutan surah Al Quran berdasarkan Tauqif (instruksi) Nabi SAW menurut pendapat Jumhur atau Mayoritas ulama ahli Al Quran yang tertuang dalam mushaf ustmani.

Sebab Dinamakan Al Fatihah
Surah pertama ini dinamakan Al Fatihah karena firman Allah SWT yang terangkum dalam sebuah kitab yang bernama Al Quran diawali oleh surah ini. Dalam bahasa arab kata "Al Fatihah" adalah isim fa'il atau bentukan kata yang berarti subjek dari "fataha-Yaftahu-fathan-futuuhan", berarti membuka. Oleh sebab itu, secara etimologi, Al Fatihah berarti pembuka. Atau lebih jelasnya pembuka atau awal dari surah-surah Al Quran yang berjumlah 114 surah.

Nama-nama Lain Al Fatihah
Al Fatihah mempunyai banyak nama. Diantaranya, Ummul Kitab, berarti induk atau ibu kitab. Disebut induk kitab karena Al Fatihah merangkum prinsip-prinsip dasar dari keseluruhan isi Al Quran.

Al Fatihah juga dinamakan As Sab'ul Matsany, yaitu tujuh yang diulang-ulang, sebab Al Fatihah termasuk salah satu rukun shalat yang wajib dibaca. Jika setiap muslim wajib melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari, maka Al Fatihah terbaca 17 kali dalam sehari sesuai dengan jumlah rakaat shalat fardlu.

Selain itu, Al Fatihah juga disebut As Syaafiyah, artinya yang menyembuhkan. Sebab firman Allah SWT yang tersusun pada untaian tujuh ayat yang tersebut Al Fatihah ini mengandung mukjizat yaitu bisa menyembuhkan penyakit ketika dibacakan kepada seseorang yang sedang menderita sakit tertentu.

Disebut juga Al Wafiyah, artinya sempurna, sebab Al Fatihah memuat secara global isi kandungan Al Quran. Al kafiyah, artinya cukup. Dengan mempelajari kandungan Al Fatihah, cukup bagi seseorang mengenal secara umum isi Al Quran. Al Asas, artinya dasar. Al Fatihah adalah pondasi dasar Al Quran.

Dengan mempelajari kandungannya, seseorang telah memiliki dasar untuk mempelajari keseluruhan isi Al Quran. Al Hamdu, artinya segala puji, sebab ayat pertama Al Fatihah diawali dengan kata ini. (Bagi yang berpendapat bahwa basmalah bukan termasuk salah satu ayat dari surah ini) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Surah Al Fatihah diturunkan sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah sehingga tergolong Makiyah. Ditinjau dari kwantitas atau jumlah ayat, Al Fatihah termasuk jenis surah Al Matsany, yaitu surah-surah Al Quran yang ayatnya berjumlah kurang dan seratus ayat.

(Dalam hal ini, ulama membagi surah Al Quran menjadi empat bagiah; As Sab'ut Thiwal (tujuh surah panjang, Al Baqarah, Ali Imran, An Nisa', Al Maidah, Al An'am, Al A'raaf, At Taubah, Al Miuun, Surah-surah yang ayatnya berjumlah seratusan, Al. Matsany yaitu surah-surah yang ayatnya berjumlah kurang dari seratus, dan Al Mufashal yaitu surah-surah pendek).

Ulama bersepakat bahwa jumlah ayat Al Fatihah tujuh ayat sesuai dengan QS. Al Hijr (15): 87, "Dan sesungguhnya kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung".

Namun, ulama berbeda pendapat tentang awal ayat Al Fatihah. Bagi ulama yang berpendapat bahwa basmalah termasuk ayat dari Al Fatihah, maka Al Fatihah diawali dengan basmalah.

Sedangkan ulama yang berpendapat basmalah bukan termasuk ayat dari Al Fatihah, maka awal ayatnya adalah "Al Hamdulillahi rabbil Alamin" dan ayat ketujuhnya " Ghairil maghdhuubi `alaihim walad dhaalliiin".

Al Fatihah diturunkan setelah surah Al Mudatsir (74). Surah ini diawali dengan lafal pujian "Al Hamdu Lillah" (segala puji bagi Allah, bagi yang berpendapat basmalah bukan termasuk ayat Al Fatihah, sehingga dalam surah ini, hanya ada satu lafdzul Jalalah atau kata Allah yaitu pada ayat yang pertama.

Al Fatihah termasuk kedalam Juz 1, namun dalam format 18 baris, Al Fatihah tidak termasuk Juz 1 berdasarkan tanda `ain yang terdapat pada format tersebut dimana angka yang tertera dibawah 'ain (menunjukkan urutan 'ain pada setiap Juz) kosong. Sehingga, jika seseorang melakukan tadarus Fungsional dalam kajian struktur dan format Al Quran langsung mulai membaca dari QS. Al Baqarah (2) : 1 dan seterusnya.

Topik Pembahasan Al Fatihah

Al fatihah membicarakan tentang ushuluddin (pokok agama) dan cabang-cabangnya, Aqidah, lbadah Tasyri', percaya kepada hari akhir, percaya bahwa Allah mempunyai sifat-sifat yang baik dan mengesakan-Nya dalam beribadah, meminta tolong dan berdoa agar ditunjukkan jalan yang lurus, merendahkan diri padaNya untuk selalu diberikan keteguhan dalam iman dan meniti jalan yang lurus serta dijauhkan dari jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT dan orang-orang yang sesat, berita tentang kisah umat-umat terdahulu dan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya.

Sababun Nuzul (sebab turunnya surah)

Dari Abu Maysarah ra, ketika Rasulullah SAW berada pada suatu tempat, beliau mendengar suara memanggilnya: "Wahai Muhammad". Namun justru beliau lari tunggang langgang. Lalu Waraqah bin Naufal berkata kepadanya: "Jika engkau mendengar suara memanggilmu diamlah sampai engkau mendengar jelas apa yang dikatakan kepada engkau”.

Tatkala beliau mendengar ada suara memanggilnya: "Wahai Muhammad". Beliau menjawab: "Aku memenuhi panggilanmu". Suara itu berucap: " Katakanlah, saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad rasulullah, katakanlah Al Hamdulillaahirabbil `Aalamin dan seterusnya sampai akhir ayat Al Fatihah". Lafal hadis ini menurut riwayat Ali bin Abi Thalib.

Keutamaan Surah Al Fatihah

Dalam Musnadnya, Imam Ahmad meriwayatkan ketika Ubay bin Ka'ab membaca Al Fatihah di hadapan Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda : "Demi dzat yang menguasai aku, tak satupun firman Allah yang diturunkan dalam Taurat, Zabur, dan Injil yang serupa Al Fatihah yang disebut sebagai As Sab'ul Matsani dan Al Quran yang agung." Hadis ini merujuk pada firman Allah SWT pada QS. Al Hijr (15) : 87, "Walaqad Aatainaaka sab'an minal matsaani wal Quraanal Adziim".

Makna Simbolik Al Fatihah dan Hubungannya Dengan Karakter Manusia Salah satu hikmah dari pembagian Al Quran per Juz yaitu menjabarkan sifat dan karakter manusia, semuanya terangkum dalam 30 Juz Al Quran dengan berbagai macam surah yang ada didalamnya.

Al Fatihah berarti pembuka. Orang yang membawa karakter surah Al Fatihah dan unsur angka 1 baik angka asli maupun hasil pampatan, misalnya Juz 1, 10, 19, dan 28 memiliki sifat mudah bosan dan menyukai hal-hal yang baru.

Terutama jika dihadapkan pada rutinitas yang monoton dan itu-itu saja. Reaksi dan ekspresinya bisa bermacam-macam. Dengan kata lain, ia merupakan tipe orang yang selalu dinamis. Ia berpotensi mendobrak dan pencetus ide atau inovasi baru.

Hal ini bisa saja timbul secara naluriah dari sikapnya yang cepat bosan terhadap sesuatu. Selain itu, Ia bersikap selalu terbuka, baginya transparansi itu sebuah kebutuhan. Ia tidak terlalu suka jika sebuah hal yang seharusnya dibuka ditutup-tutupi. Semua ulasan karakter ini bisa dilihat dari dua sisi, negative dan positif.

Surah Al Baqarah
Dalam mushaf Usmani, surah ini merupakan urutan surah yang kedua setelah Al Fatihah sebagaimana instruksi (tauqiif) dari Rasulullah SAW. Dinamakan Al Baqarah adalah untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang sebuah mukjizat yang dahsyat terjadi pada masa Nabi Musa as.

Dikisahkan, suatu ketika salah seorang dari Bani Israel terbunuh dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Kemudian mereka melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi Musa as, barangkali ia tahu pembunuhnya.

Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Musa as agar menyuruh mereka menyembelih seekor sapi dan memotong-motong dagingnya. Lalu atas izin Allah SWT, sapi tersebut hidup kembali dan memberitahukan kepada mereka pembunuh misterius itu. Peristiwa ini merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah SWT menghidupkan makhluk yang sudah mati.

Al Baqarah termasuk surah yang turun setelah Nabi SAW hijrah sehingga disebut Madaniyah. Dari segi kwantitas ayat, Al Baqarah tergolong At Thiwal (tujuh surah yang panjang), total jumlah ayatnya 286, surah yang paling banyak ayatnya. Al Baqarah merupakan surah yang pertama kali turun di Madinah. Diawali oleh huruf yang terpotong yaitu Alif Lam Mim.

Tersebut dalam surah ini tak kurang dari 100 kata Allah. Di surah ini pula terdapat ayat terpanjang dalam Al Quran, yaitu ayat 282 yang membicarakan tentang muamalah (teknis hutang piutang). Surah ini terbagi menjadi 3 juz, karena pembagian juz Al Quran tidak berdasarkan jumlah surah, tetapi mengacu kepada jumlah halaman mushaf.

Pada mushaf Al Quran format 18 baris, Juz 1 dimulai dari QS. Al Baqarah (2) : 1 sampai 141. Lalu Juz 2 dimulai dari ayat 142 sampai 252.

Sedang ayat Al Baqarah pada Juz 3 dimulai ayat 253 sampai 286. Tentu, pembagian ini tidak sembarangan dan mengandung hikmah dibaliknya yang harus diungkap.

Sebagaimana kebanyakan surah madaniyah yang lain, secara garis besar bisa dikatakan Al Baqarah juga membicarakan tentang norma dan aturan perundang-undangan yang mengatur kehidupan sosial kemasyarakatan kaum muslimin.

Sababun Nuzul Al Baqarah
1.Alif Lam Mim Dzalikal kitaab..., dari Mujahid : " Empat ayat pertama surah ini turun membahas orang-orang yang beriman, dua ayat berikutnya membicarakan tentang orang-orang kafir dan tiga belas ayat setelahnya menyinggung tentang orang-orang munafik.

2."Innal ladziina kafaruu", Ad Dhahak berkata: "ayat ini turun (membahas tentang) Abu Jahal dan lima orang keluarganya”. Al Kalby menimpali: "Ayat ini berbicara tentang orang Yahudi”.

3." Waidza Laqullladziina Aamanuu", Al Kalby : " Dari Abu Shalih dari lbnu Abbas ra, ia berkata : “ayat ini turun tatkala Abdullah bin Ubay dan sahabatnya berjumpa dengan para sahabat Rasulullah SAW”.

Ubay berkata kepada sahabat Abu Bakar ra : " Selamat datang wahai orang yang mendapat gelar As Siddiq (yang selalu membenarkan apa yang dikatakan oleh Nabi saw), pemuka bani tamim, tokoh islam dan teman Rasulullah SAW (ketika dalam goa tsur), serta orang yang selalu bersedia mengorbankan jiwa dan hartanya".

Ubay pun menyapa Umar bin Khatab seraya berkata : " Selamat datang pemuka Bani 'Ad bin Ka'ab, orang yang berge!ar Al Faruq (pembeda) dan teguh memegang agama Allah serta bersedia berkorban Jiwa dan raga untuk Rasulullah SAW yang dicintainya.

Tak lupa, Ubay juga meraih tangan Ali bin Abi Thalib sambil berkata : " Selamat datang putra paman Rasulullah SAW dan cucu pemuka bani Hasyim. Kemudian mereka berpisah, lalu Abdullah berkata kepada para sahabatnya : " Lihatlah apa yang aku baru lakukan, jika kalian bertemu dengan mereka (para sahabat Rasulullah SAW), lakukanlah seperti yang aku perbuat, pujilah mereka". Para sahabat Nabi SAW mengadu kepada beliau dan menceritakan peristiwa tersebut, lalu Allah menurunkan ayat ini".

Makna Simbolik Al Baqarah dan Hubungannya dengan Karakter Manusia dalam bahasa Arab, kata dibedakan menjadi maskulin (mudzakar) dan feminin (muannast).

Salah satu ciri dari masing-masing kata tersebut, kata maskulin tidak terdapat ta' marbuthah pada akhir kata sedang kata feminin diakhiri ta' marbuthah atau disebut juga ta' muannast, ta' yang menunjukkan pada kata tersebut tergolong feminin.

Dari kaidah gramatikal Arab tersebut, bisa dipahami bahwa kata Al Baqaratu atau kalau dibaca waqaf ta' nya dimatikan menjadi Al Baqarah berbentuk feminin, sehingga bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi sapi betina. Sedang bentuk maskulinnya Al Baqaru atau Al baqar yang berarti sapi jantan.

Tentu, penggunaan nama surah dengan memakai kata Al Baqarah dalam bentuk feminin mengundang pertanyaan kritis. Kenapa tidak menggunakan bentuk maskulin yang lazim digunakan dalam bahasa Arab?

Menganut azas manfaat, terbukti bahwa sapi betina ternyata lebih menonjol dan memberikan banyak manfaat sesuai kapasitasnya sebagai binatang peliharaan.

Selain daging dan kulitnya yang bisa dimanfaatkan, sapi betina memiliki kelebihan dibandingkan sapi jantan, ia bisa mengeluarkan susu yang bisa diminum tidak hanya oleh sebangsanya tetapi juga oleh manusia.

Simak QS. An Nahl (16) : 66, " Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kalian. Kami memberi kalian minum dari apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah yang bersifat menyegarkan lagi mengenyangkan bagi orang-orang yang meminumnya".

Sekalipun maksud dari kata Al An'am pada ayat tersebut tidak terbatas hanya sapi saja namun bisa dipastikan bahwa apapun jenis binatang ternaknya, yang bisa mengeluarkan susu tentunya hanya yang berjenis kelamin betina.

Disisi lain, negatifnya sapi termasuk binatang yang kurang mengerti dengan tugas dan tanggung jawabnya. Hal ini bisa dibuktikan jika kita menggiring sapi untuk menggarap sawah.

Sekalipun kita sudah siapkan dan pasang peralatannya lalu kita bawa ke sawah, ia tetap tidak bergeming (untuk segera melakukan tugasnya berjalan mengelilingi sawah) sebelum kita menepuk-nepuknya atau bahkan mencambuknya.

Nah, dengan mengetahui psikologi sapi, kita akan mudah menguraikan karakter manusia yang tersirat dalam Juz-juz Al Quran. Hal ini bukan berarti menyamakan manusia dengan sapi, tetapi lebih kepada menggali makna yang tersembunyi dibalik pengunaan nama Al Baqarah sebagai salah satu nama surah Al Quran.

Terlebih, dalam sebuah ayat Al Quran dikatakan jika manusia telah dikuasai oleh nafsunya sehingga melakukan sesuatu diluar kodratnya sebagai manusia dan tidak menggunakan jawarih (anggota badannya) sesuai dengan fungsi dan kegunaannya (untuk membaca ayat Allah baik kauniyah dan qauliyah sehingga menjadi semakin dekat kepadaNya), maka ia disamakan dengan hewan (binatang ternak) bahkan lebih parah.

Simak QS. Al A'raaf (7) : 179, "Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari Jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itu orang-orang yang lalai".

Orang yang mempunyai unsur Al Baqarah atau terdapat angka dua (angka dua merupakan urutan surah Al Baqarah pada mushaf usmani) baik asli maupun hasil pampatan maka memiliki kemiripan atau bahkan kesamaan dengan karakter sapi betina. Misalnya Juz 1, Juz 2, Juz 3, Juz 11, 20, dan 29. Tentu, dalam mengurai karakter manusia haruslah seimbang antar positif dan negatif.

Orang yang membawa karakter Juz-juz tersebut mempunyai kecenderungan untuk bersikap pasif terlebih dahulu dalam menyikapi sebuah permasalahan. Ia lebih banyak melihat dan mengamati lebih dulu situasi dan kondisi yang melingkupinya sekalipun bisa saja pada akhirnya ia mendominasi dan pro aktif. Ia memiliki sifat pekerja keras dan tidak suka mengeluh dengan apapun yang dialaminya.

Sebaliknya, dalam kondisi tertentu, jangan kaget jika orang yang memiliki karakter Juz di atas malas berbuat apapun, misalnya hanya tidur saja kerjaannya atau bahkan tidak tahu apa yang harus dikerjakannya.

Ia memang suka tidur dan bisa memakan waktu berjam-jam untuk menyalurkan "hobi"nya yang satu ini. Pada situasi ini, Ia bisa sangat pasif dan tidak kreatif serta kurang inisiatif.

Adakalanya, ia menyelesaikan masalah-nya dengan tidur, artinya ketika sebuah masalah yang sangat pelik menimpanya, maka ia akan menyalurkannya lewat aktifitas tidur.

Ia juga tipe orang yang selalu ingin berbuat sesuatu yang positif untuk lingkungannya. Dengan kata lain, rasa sosialnya tinggi. Ia akan bersedia berkorban dan memberikan apapun miliknya kepada seseorang jika dianggapnya telah berbuat baik atau berjasa kepadanya.

Ia sangat jeli melihat sebuah permasalahan. Boleh dikatakan analisisnya tajam. Ia sangat berpotensi melihat detil-detil permasalahan yang mungkin buram atau tidak jelas dalam pandangan orang lain.

Berdasarkan Al baqarah juga, orang yang mempunyai unsur ini pada saat remaja selalu ingin mendapat perhatian lebih dari orang-orang terdekatnya khususnya orang tua dan sangat haus kasih sayang serta ingin selalu dilayani.

Setelah dewasa, jika ia mendapatkan itu semua ia akan berubah menjadi orang yang sangat mengerti akan kebutuhan orang lain.

Kisah Maryam , Ibunda Nabi Isa AS




Keutamaan Keluarga ‘Imran
Kisah ’Isa as dimulai dari kisah keluarga kakeknya, yaitu ’Imran bin Matsan, seorang pendeta dan pembesar Bani Israil. Mereka penganut Taurat. ’Imran menikah dengan Hannah binti Faqudz, ipar Nabi Zakariya as. Imran dan Hannah tinggal di Nazariat atau Nazaret. Pernikahan ’Imran dan Hannah nantinya dikarunia seorang putri yang bernama Maryam ibunda ’Isa as. Nama keluarga Imran ini diabadikan sebagai nama surat dalam al-Qur`an, yaitu surat Ali Imran yang berarti Keluarga Imran…
Keluarga Imran termasuk keluarga yang dimuliakan dan terpilih di masanya. Masa itu sekitar tahun 25 SM (Sebelum Masehi). Yerusalem dan sekitarnya sejak tahun 63 SM dijajah oleh Kekaisaran Romawi Kuno yang beribukota di Roma, Italia. Yerusalem dan sekitarnya masuk Provinsi Yudea yang diperintah Raja Herodus. Saat itu yang menjadi Kaisar Romawi adalah Kaisar Augustus yang memerintah sejak tahun 31 SM menggantikan Yulius Caesar. Pemerintahan Kekaisaran Romawi Kuno ini menyembah dewa-dewa Yunani dan Romawi, juga terpengaruh dari paganisme Mesir dan Persia. Seks bebas menjadi hal yang biasa di Kekaisaran Romawi Kuno.
Allah SWT berfirman:
Ali ‘Imran: 36
33. Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),
Ali ‘Imran: 34
34. (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Setelah bertahun-tahun menikah dengan ’Imran, akhirnya Hannah mengandung. Pada saat mengandung, Hannah bernazar mengenai anak yang ada dalam kandungannya.
Allah SWT berfirman:
Ali ‘Imran: 35
35. (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Hari-hari terus berjalan. Takdir Allah tak dapat dielakkan. Ketika masa kelahiran anaknya sudah dekat, ’Imran, suami Hannah, wafat. Hannah kehilangan suami yang mencintainya. Tidak ada yang meringankannya kecuali saudara perempuannya, yaitu Isya`, dan suami Isya`, Nabi Zakariya, keturunan Nabi Sulaiman bin Daud as. Untuk mencari nafkah, Nabi Zakariya berprofesi sebagai tukang kayu.
MARYAM LAHIR
Tibalah hari yang dinantikan. Hannah melahirkan anaknya. Anak itu berjenis kelamin perempuan. Hannah menamainya Maryam atau Maria, yang berarti pengabdi tuhan.
Hannah, istri Imran tersebut, pun berhujjah kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
Ali ‘Imran: 35
36. Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”
Hannah kemudian mengambil Maryam, membungkusnya dengan kain, dan pergilah ia bersama anaknya dari Nazariat ke Baitul Maqdis untuk melaksanakan nadzarnya. Dia menemui para pendeta yang ada di sana, yaitu putra-putra Harun, yang jumlahnya tiga puluh orang. Adapun Nabi Zakariya adalah kepala Baitul Maqdis.
Hannah berkata kepada mereka, “Ambilah anak yang kunadzarkan ini!”
Maka, dengan berebutan, pada pendeta itu menawarkan dirinya untuk memungut anak itu, termasuk Nabi Zakariya. Masing-masing dari mereka ingin mengambil dan memelihara Maryam, sebab bayi itu adalah anak ‘Imran, seorang yng terkenal shaleh.
Akhirnya semua pendeta itu setuju untuk mengundi siapa di antara mereka yang paling berhak atas anak itu. Pergilah mereka ke Sungai Urdun. Masing-masing mereka melemparkan pena-pena yang biasa mereka gunakan untuk menuliskan ayat-ayat Taurat ke dalam air sungai.
Allah SWT berfirman:
Ali ‘Imran: 44
44. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.
Ternyata, air sungai menenggelamkan semua pena pendeta itu, kecuali pena Zakariya yang tetap terapung-apung di permukaan air. Dengan demikan, berarti Zakariyalah yang berhak memelihara Maryam.
Allah SWT berfirman:
Ali ‘Imran: 37
37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.

MARYAM DALAM PEMELIHARAAN NABI ZAKARIYA
Nabi Zakariya bersama istrinya kemudian memelihara bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang.
Ketika Maryam telah menjadi gadis remaja, Zakariya membangun untuk Maryam sebuah mihrab (kamar khusus) di dalam Baitul Maqdis. Kamar itu dimaksudkan sebagai tempat Maryam menyembah Allah untuk menyempurnakan nadzar Hannah, ibu Maryam, yang telah diputuskan atas dirinya.
Mulailah Maryam menempati kamar itu untuk beribadah kepada Allah yang Maha Esa. Siang hari ia berpuasa dan malamnya ia beribadah dan bertasbih. Zkakariya membiarkan Maryam di kamar itu sendirian sampai tiba saatnya ketika ia harus mengirimkan makanan dan minuman untuknya. Begitulah kehidupan yang berlaku atas diri Maryam hari demi hari.
Setiap Zakariya datang ke kamar Maryam untuk membawakan makanan dan minuman buat Maryam, Zakariya melihat seonggok buah musim panas di waktu musim dingin, dan buah musim dingin di waktu musim panas. Dengan keheranan akhirnya Zakariya bertanya, “Dari mana engkau peroleh (makanan) ini?” Maryam menjawab, “Makanan ini datang dari sisi Alah.”
Allah SWT berfirman:
Ali ‘Imran: 37 (lanjutan)
37. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

MARYAM DALAM PEMELIHARAAN YUSUF AN-NAJJAR
Tahun demi tahun berlalu. Datanglah masa paceklik menimpa Bani Israel. Makanan dan minuman sulit didapat sehingga tak sedikit penduduk yang kelaparan. Keluarlah Nabi Zakaria menemui kaumnya dan berseru, “Hai Bani Israil, ketahuilah demi Allah, sesungguhnya aku sudah tua dan lemah untuk menanggung anak perempuan Imran. Maka siapakah di antara kalian yang bersedia memelihara Maryam sepeninggalku, mencukupi baginya makanan dan minuman sampai ia dapat menyelesaikan ibadahnya kepada Allah sebagaimana nadzar ibunya?”
Pengundian pun dilakukan dan jatuh pada seorang yang shaleh, sepupu Maryam sendiri, seorang tukang kayu yang bernama Yusuf. Banyak pemberian Allah kepada Yusuf an-Najjar sebagai keberkahan dan kemuliaan bagi Maryam dari Allah Tuhannya.
Setiap kali Yusuf datang ke kamar Maryam untuk mengirim makanan dan minuman, dia melihat di sisi Maryam sebagaimana yang dilihat Nabi Zakariya sebelumnya, yaitu karunia Allah kepada Maryam berupa segala jenis buah-buahan segar.
YAHYA AS. LAHIR
Dalam usia yang sudah renta, Nabi Zakariya berdoa kepada Allah agar diberi anak yang shalih yang akan menggantikannya memimpin Bani Israil. Doa beliau dikabulkan Allah. Isya`, istri beliau mengandung. Beliau dikarunia anak laki-laki yang bernama Yahya as.
(Yahya lahir beberapa bulan sebelum kelahiran ‘Isa, karena Maryam mengandung ‘Isa beberapa bulan setelah ‘Isya’ mengandung Yahya. Masa kecil hingga remaja Yahya dan ‘Isa hidup sezaman. Bedanya, masa kecil ‘Isa di Mesir menghindari kejaran Raja Herodes, sedang masa kecil Yahya di Baitul Maqdis. Ketika remaja, Yahya sudah diangkat menjadi nabi, melawan Raja Herodes dan terbunuh. ’Isa kembali ke Baitul Maqdis ketika usia 12 tahun setelah Raja Herodes mati. ‘Isa diangkat menjadi nabi ketika umur 30 tahun.)
Yahya tumbuh menjadi anak kecil yang cepat menyerap ilmu, khususnya dari Kitab Taurat. Pada usia muda Yahya sudah menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah, cerdas, dan berani menentang hal-hal yang bertentangan dengan Taurat. Allah mengangkatnya menjadi nabi dan menjadi pemimpin Bani Israil.
Saat itu Raja Herodes yang kejam ingin menikahi seorang mahramnya yang bernama Herodia. Nabi Yahya menentang rencana itu. Herodia pun meminta Raja Herodes membunuh Nabi Yahya. Raja Herodes lalu mengutus pembunuh yang memenggal kepala Nabi Yahya. Kepala Nabi Yahya diletakkannya di dalam mangkuk dari kuningan dan dihadapkan ke Herodia. Matilah wanita terkutuk itu seketika.
Allah SWT berfirman:
Maryam: 12
12. Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,

13. dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa,

14. dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.

15. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.

Kamis, 02 Februari 2012

Kisah: Malik, Putri Kecil dan Ular Besar

Muslim-SCHOLARS

Aku adalah seorang petugas keamanan di masa mudaku dan suka dengan khamr. Aku minum anggur siang dan malam dan hidup berfoya-foya. Aku membeli seorang gadis sebagai budak yang sangat aku sayangi. Darinya aku memperoleh seorang anak perempuan. Seorang anak yang manis. Aku sangat menyayanginya dan ia pun sayang kepadaku. Ketika ia mulai bisa berjalan dan berbicara, rasa sayangku semakin bertambah. Ia selalu berada di sisiku setiap saat.

Gadis kecilku itu memiliki kebiasaan yang aneh. Setiap ia melihat segelas khamr di tanganku, ia akan mengambilnya dan menumpahkannya ke pakaiannku. Namun karena rasa sayangku kepadanya, amarahku tak pernah meluap karenanya.

Pada umur dua tahun, takdir Allah menetapkan bahwa ia harus meninggal dunia. Kematiannya demikian memukulku dan kesedihan karenanya demikian menyesakkan dadaku.

Suatu malam, aku sangat mabuk dan tertidur tanpa mengerjakan sholat Isya’. Dalam tidur aku mengalami mimpi yang sangat seram dan menakutkan.

Aku melihat bahwa hari itu adalah hari kebangkitan di mana manusia keluar dari kuburnya dan aku termasuk dari mereka yang digiring ke Padang Masyar. Aku mendengar ada suara yang mengikutiku dan ketika kutengok kulihat ada ular yang sangat besar sedang mengejarku, sangat dekat. Oh, sebuah pemandangan yang amat menyeramkan. Ular itu memiliki mata biru berbentuk mata kucing. Mulutnya menganga lebar dan badannya berkelak-kelok meluncur deras ke arahku, semakin dekat.

Aku melihat seorang kakek tua, berbusana rapi dengan wangi parfum semerbak di sekelilingnya. Aku menyapanya dengan “Assalamu’alaikum” dan iapun menjawabnya. Aku berkata: “Demi Allah, tolonglah aku dalam kemalanganku ini.” Ia menjawab, “Aku terlalu lemah untuk menolongmu melawan musuh yang sedemikian besar. Itu sungguh di luar kemampuanku. Tetapi, tetaplah berlari. Mungkin engkau akan menemukan bantuan yang bisa menyelamatkanmu dari ular itu.”

Aku berlari sekuat daya. Kulihat ada tebing di depanku dan memanjatnya. Namun ketika sampai di atas, aku melihat kobaran api neraka Jahanam. Sebuah pemandangan yang lebih menakutkan. Aku terus berlari karena takut akan ular itu hingga aku hampir terjatuh ke dalam api Jahanam. Kemudian aku mendengar suara keras: “Kembalilah, kamu bukan bagian dari mereka, penghuni Jahanam.” Aku lari menjauh ke arah yang lain. Namun ular itu terus mengejarku. Aku bertemu kembali dengan kakek tua berbaju putih bersih tadi dan memohon, “Kakek tua, tidakkah engkau bisa menolongku dari ular ini? Aku sudah meminta pertolonganmu tetapi engkau tidak menolong.” Kakek tua itu malah menangis dan berkata, “Aku terlalu lemah untuk menolongmu melawan ular yang perkasa. Namun aku hanya bisa memberitahumu bahwa ada sebuah bukit di dekat sini di mana perbendaharaan suci kaum muslimin disimpan. Jika engkau menaiki bukti itu, mungkin engkau akan menemukan perbendaharaanmu yang tersimpan di sana dan mungkin bisa menyelamatkanmu dari ular itu.”

Aku berlari ke arah bukit itu. Bentuknya seperti kubah dengan banyak pintu gerbang bertirai. Di setiap gerbang terdapat pintu emas bertahtakan mirah delima dan aneka permata. Di setiap daun pintunya ada tirai dari kain sutera yang paling langka. Ketika aku mulai memanjat bukit itu, sebuah suara terdengar, “Buka pintunya, naikkan tirainya dan keluarlah dari kamar kalian! Di sini ada seorang yang malang, mungkin di antara kalian ada yang memiliki kekayaan darinya yang bisa menyelamatkannya dari bahaya.” Pintu-pintu itu terbuka dengan serentak, tirainya diangkat dan dari dalamnya keluar anak-anak kecil tak berdosa yang wajahnya bercahaya bagai bulan purnama.

Pada saat itu, aku sudah lemas tak berdaya karena ular itu sudah sangat dekat. Anak-anak itu berseru kepada teman-temannya, “Keluarlah semua, ular itu sudah hampir menerkamnya.” Sekelompok anak-anak kembali keluar dan di antara mereka aku melihat wajah yang amat kukenal. Aku melihat putriku yang telah meninggal beberapa waktu lalu. Ia mulai menangis dan berteriak, “Demi Allah, itu adalah ayahku tersayang!” Ia melompat ke dalam sebuah ayunan yang seperti terbuat dari cahaya dan meluncur kencang ke arahku. Aku meraihnya dan membawanya ke dalam pelukanku. Tangan kirinya meraihku sementara tangan kanannya menghalau ular itu. Sang ular dengan tiba-tiba menghilang. Kemudian ia membawakanku sebuah kursi dan duduk di pangkuanku. Ia mulai bermain-main dengan jenggotku dan berkata, “Ayahku sayang:

Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka),… [Al Hadiid: 16]

Aku menangis mendengarnya dan bertanya kepadanya, “Anakku, apakah kalian semua mengerti isi Al Qur’an?” Ia menjawab, “Kami paham dengan Al Qur’an jauh lebih baik daripada engkau.” Aku bertanya, “Anakku, ular apakah tadi?” Ia menjawab, “Itu adalah amal keburukanmu yang telah menjadi sangat kuat dan hampir-hampir saja mendorongmu ke dalam neraka Jahanam.” Aku bertanya kembali, “Lalu siapa kakek tua berbaju putih bersih tadi?” Ia menjawab, “Ia adalah amal kebaikanmu dan engkau menjadikannya sedemikian lemah dengan sedikitnya kebaikanmu sehingga ia tak mampu menolongmu melawan ular itu.” Aku semakin penasaran, “Apa yang kalian semua lakukan di bukit ini?” Ia menjawab, kami adalah anak-anak kaum muslimin yang meninggal di waktu bayi. Kami hidup di sini hingga hari kebangkitan, menunggu untuk dipersatukan kembali dengan keluarga kami saat mereka pada akhirnya menjemput kami. Kami akan memohon syafaat untukmu kepada Tuhanmu.”

Aku terbangun, menangis dan menyeru, “Ya Rabbi, sekarang, sekarang, sekarang ya Allah aku bertaubat. Ya, sekarang.” Maka, aku bangun dan berwudhu, bergegas menuju masjid untuk sholat Shubuh, bersegera untuk bertaubat dan kembali kepada Allah. Ketika sampai di masjid, ia menemukan imam sedang membaca surat yang sama dengan yang dibacakan oleh putriku di dalam mimpi.

Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka),… [Al Hadiid: 16]

***

Sungguh, Allah benar-benar awas terhadap mereka yang ingin kembali kepada-Nya. Dan dengan kasih sayang-Nya yang tak terbatas, Ia selalu membuka kesempatan kepada mereka yang ingin mencari ampunan-Nya dan mendekat kepada-Nya.

Kisah di atas dituturkan oleh Malik bin Dinar, seorang ulama yang ternama di masa Hasan al Basyri. Setelah taubatnya, Malik bin Dinar terlihat sering berdiri sholat, menangis di hadapan Allah di malam hari dan berdoa:

“Ya Allah, hanya Engkaulah yang mengetahui siapa saja penghuni Surga dan penghuni Neraka. Maka, termasuk yang mana aku yaa Allah, jadikanlah aku penghuni Surga dan jangan jadikan aku penghuni Neraka.”

Malik bin Dinar berubah dari orang yang dikenal dengan sifat kasar dan kejamnya, suka mabuk-mabukannya dan ketidakpeduliannya terhadap hubungannya dengan Allah, menjadi orang yang sholih dan ulama penghulu umat seperti ulama besar Hasan al Basyri. Ia berubah dari orang yang dibenci masyarakat, menjadi orang yang dicintai oleh masyarakat, bahkan hingga sekarang. Dari orang yang pantas masuk neraka, Malik bin Dinar berubah menjadi orang yang, insya allah, akan menghuni Surga selamanya.

Semoga Allah merahmatinya dan kita bisa mengambil ibrah, pelajaran dan hikmah dari kisahnya.

Rabu, 01 Februari 2012

KISAH UMAR BIN KHATTAB DAN RAKYAT JELATA


Walaupun kisah ini sudah tidak asing lagi kalangan umat islam, namun alangkah baiknya kita mengasah hati ini agar selalu ingat dengan amanah.

Umar bin Khattab ini masuk dalam Islam berkat hidayah dari Allah yang pertama, yang kedua berkat doa Rasulullah SAW dan yang ketiga berkat adiknya Fatimah yang terlebih dulu menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW berkat lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacanya.

Doa Rasulullah :

"Semoga Allah memberi kejayaan pada Islam dengan masuknya Umar ke dalam Islam."

Dan Allah SWT pun mengabulkan doa tersebut.

Umar adalah sosok pemimpin teladan yang sangat mengerti kepentingan rakyatnya. Padahal ia sendiri hidup dalam kondisi sangat sederhana.

Pada suatu malam, sudah menjadi kebiasaan bahwa Khalifah Umar bin Khattab sering berkeliling mengunjungi, menginvestigasi kondisi rakyatnya dari dekat. Pada suatu malam, ia menjumpai sebuah gubuk kecil yang dari dalam terdengar suara tangis anak-anak. Ia pun mendekat dan mencoba untuk memperhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu.

Ternyata dalam gubuk itu terlihat seorang ibu yang sedang memasak, dan dikelilingi oleh anak-anaknya yang masih kecil.

Si ibu berkata kepada anak-anaknya,

"Tunggulah...! Sebentar lagi makanannya matang."

Sang Khalifah memperhatikan dari luar, si ibu terus menerus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan yang dimasaknya akan segera matang.

Sang Khalifaf menjadi sangat penasaran, karena yang dimasak oleh ibu itu tidak kunjung matang, padahal sudah lama dia memasaknya.


Akhirnya Khalifah Umar memutuskan untuk menemui ibu itu kemudian bertanya, "Mengapa anak-anakmu tidak juga berhenti menangis, Bu..?" tanya Sang Khalifah.

"Mereka sangat lapar," jawab si ibu.

"Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dimasak dari tadi itu?" tanya Khalifah.

"Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanya berisi batu untuk mendiamkan mereka.

Biarlah mereka berfikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur." jawab si ibu.


Setelah mendengar jawab si ibu, hati sang Kahlifah Umar bin Khattab serasa teriris.

Kemudian Khalifah bertanya lagi, "Apakah ibu sering berbuat demikian setiap hari?".

"Iya, saya sudah tidak memiliki keluarga atau pun suami tempat saya bergantung, saya sebatang kara...," jawab si ibu.


Hati sang Khalifah laksana mau copot dari tubuh mendengar penuturan itu, hati terasa teriris-iris oleh sebilah pisau yang tajam.

"Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat meolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal?" tanya sang khalifah lagi.


"Ia telah zalim kepada saya...," jawab si ibu.

"Zalim....," kata sang khalifah dengan sedihnya.

"Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan saya!" kata si ibu.

Khalifah Umar bin Khattab kemudian berdiri dan berkata, "Tunggulah sebentar….. Saya akan segera kembali."

Di malam yang semakin larut dan hembusan angin terasa kencang menusuk, Sang Khalifah segera bergegas menuju Baitul Mal di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk memasak.


Jarak antara Madinah dengan rumah ibu itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari tubuh Umar. Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata, "Tidak akan aku biarkan engkau membawa dosa-dosaku di akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku merasa sudah begitu bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak-anaknya itu."



Beberapa lama kemudian sampailah Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu.

Begitu sekarung gandum dan minyak samin itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal.


Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab.


Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.


Nah, itulah kisah pemimpin teladan kita kali ini, sahabat Rasulullah SAW, Khalifah Umat Islam yang kedua, Umar bin Khattab.

Semoga dengan kisah ini, kita dapat terinspirasi dengan amanah yang diberikan. Betapa seorang pemimpin akan dimintakan pertanggung jawaban di akhirat kelak.

Beberapa hadits tentang malu.. **

Rasulullah menjadikan sifat malu bagian dari cabang iman. Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah bersabda, ''iman memiliki 60 atau 70 cabang. Paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illallah', dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dijalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan." (HR. Muslim dalam kitab Iman, hadits nomor 51)

Rasa malu adalah cabang dari iman sebagaimana Rasulullah menyatakan, "Iman terdiri dari 60 cabang lebih dan rasa malu sebagian cabang dari iman." (HR. Bukhori)

Rasa malu sebagai hiasan semua perbuatan. Dalam hadits yang diriwayatkan Anas r.a bahwa Rasulullah telah bersabda, "Tidaklah ada suatu kekejian pada suatu perbuatan kecuali akan menjadikannya tercela dan tidaklah ada suatu rasa malu pada suatu perbuatan kecuali akan menghiasinya." (Musnad Ahmad)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah bersabda pada Al Asyad al 'Asyri: "Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua hal yang dicintai Allah yaitu kesabaran dan rasa malu." (Musnad Ahmad)

Diriwayatkan dari Abdillah ibni Mas'ud ia berkata, Rasulullah telah bersabda pada suatu hari : "Milikilah rasa malu pada Allah dengan sebenar-benarnya! Kami para Sahabat berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya kami alhamdulillah telah memiliki rasa malu. Rasulullah bersabda: "Bukan sekedar itu akan tetapi barang siapa yang malu dari Allah dengan sesungguhnya hendaknya menjaga kepalanya dan apa yang ada didalamnya, hendaknya ia menjaga apa yang ada diperutnya dan yang ada didalamnya, hendaknya ia mengingat mati dan hari kehancuran. Dan barang siapa menginginkan akhirat ia akan meninggalkan hiasan dunia. Barang siapa yang mengerjakan itu semua berarti ia telah malu kepada Allah dengan sesungguhnya." (Musnad Ahmad)

Tentang kesejajaran malu dan iman dipertegas lagi oleh Rasulullah dalam sabdanya, "Malu dan iman keduanya sejajar bersama, ketika salah satu dari keduanya diangkat maka yang lainnya pun ikut terangkat." (Hadits Riwayat Hakim dan Ibnu Umar)

Karena itu sifat malu membawa kebaikan bagi pemiliknya, sifat malu tidak akanmendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Begitu kata Rasulullah (HR.Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5652)

Dengan kata lain seseorang yang kehilangan sifat malunya yang tersisa dalam dirinya hanyalah keburukan. Buruk dalam ucapan, buruk dalam perangai. Tidak bisa kita bayangkan jika dari mulut muslimah keluar kata² kotor lagi kasar. Bertingkah dengan penampilan seronok dan bermuka tebal. Tentu bagi dia surga jauh. Kata Nabi, "Malu adalah bagian dari iman dan keimanan itu berada di surga. Ucapan yang jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya dineraka." (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr Was Shilah, Hadits nomor 1932)